SEMINAR UKK 2024_CINTA, SEKS, DAN DATTING
CINTA, SEKS, DAN DATTING: MEMBANGUN FONDASI KOKOH UNTUK PERNIKAHAN
Di era modern
dengan tingginya angka perceraian dan kompleksitas hubungan, memahami
dasar-dasar pernikahan yang sehat menjadi sangat penting. Pernikahan bukanlah
konsep yang muncul secara kebetulan - ini adalah rancangan Tuhan dengan tujuan
khusus. Berdasarkan Kejadian 2:15-18, 24, Tuhan menciptakan pernikahan dengan
maksud Memberikan persekutuan (Tidak baik kalau manusia itu seorang diri), Menciptakan
kemitraan (penolong yang sepadan), dan Membangun kesatuan (menjadi satu daging).
Banyak kasus perceraian pasangan terkenal, bahkan setelah puluhan tahun
menikah, membuktikan bahwa perasaan cinta yang kuat saja tidak cukup untuk
mempertahankan pernikahan. Kenapa?1. Cinta
bisa bersifat egois: perasaan romantis
awal sering berfokus pada kepuasan pribadi , saat pacaran, pengorbanan sering
dilakukan dengan harapan mendapat balasan, dan pernikahan membutuhkan ketulusan
dan pemberian tanpa syarat.2. Perasaan cinta tidak stabil: perasaan berubah-ubah
berdasarkan situasi, cinta bisa berubah menjadi ketidakpedulian atau bahkan
kebencian ketika harapan tidak terpenuhi, dan ketertarikan awal yang kuat tidak
menjamin kecocokan jangka panjang.3. Trauma masa lalu bisa menyesatkan: luka emosional dari
masa lalu dapat menciptakan pola kelekatan yang tidak sehat, orang bisa salah
mengartikan ketergantungan emosional sebagai cinta, dan trauma yang belum
sembuh bisa muncul sebagai perilaku mengontrol atau ketergantungan berlebihan
Sebab itu, perlu
adanya masa pacaran. Pacaran bukan sekadar untuk bersenang-senang. ini adalah
periode evaluasi yang krusial. Pacaran yang sehat harus berfokus pada proses
saling mengenal, memahami diri sendiri, dan persiapan pernikahan. Pacaran yang baik juga dilakukan
dengan menjaga kesucian sebelum nikah karena dapat membantu dalam menjaga Kesehatan
Fisik (penyakit menural dan kehamilan), kesehatan Emosional (komplikasi ikatan
emosional, masalah kepercayaan)l, dan Kualitas Hubungan (koneksi yang tulus,
dan kepercayaan dan rasa hormat). Meski cinta romantis itu indah dan penting,
pernikahan yang berhasil membutuhkan lebih dari sekadar perasaan yang kuat.
Dibutuhkan fondasi yang dibangun di atas nilai-nilai bersama, rasa hormat
mutual, komunikasi yang jelas, dan komitmen untuk bertumbuh. Manfaatkan masa
pacaran untuk mengevaluasi kecocokan di luar ketertarikan emosional, jaga
batasan yang tepat, dan persiapkan diri untuk tanggung jawab pernikahan.
Ingat: Tragedi
terbesar dalam pernikahan bukanlah perceraian atau kehilangan pasangan, tetapi
gagal mencapai tujuan ilahi yang telah ditetapkan untuk pernikahan. Luangkan
waktu untuk membangun fondasi yang kuat sebelum mengucapkan "saya
bersedia."
God Bless You
P.S. Jesus Loves you.



Komentar
Posting Komentar