RENUNGAN BULAN APRIL
MINGGU KE-1
SISIH ATAU SISA
1 Raja-Raja 19-20
nusyebastov.blogspot.com
Kalau dipikir-pikir, sisih dan sisa sama-sama merupakan sebagian kecil dari komponen utama. Namun, dalam prinsip memberi, keduanya mempunyai arti yang berbeda. Sisih artinya mengambil beberapa bagian terlebih dulu, baru kemudian menggunakan kelebihannya untuk kebutuhan. Sisa berarti memakai dulu untuk kebutuhan, baru memberikan apa yang masih tertinggal. Dibanding sisa, sisih lebih menunjukkan adanya kasih. Itulah sebabnya jika saya pulang terlambat, ibu menyisihkan makanan untuk saya.
Ironisnya, kadang-kadang kita memberikan sisa kepada Tuhan. Jika disodori kantong persembahan, kita masih berhitung-hitung. Kita lupa kalau semua milik kita sebenarnya milik Tuhan. Ketahuilah, Tuhan bukan Pribadi yang serakah. Dia tidak meminta semua yang kita miliki. Itulah sebabnya Yesus tidak melarang orang membayar pajak kepada Kaisar. Dia berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Melalui perkataan-Nya, Yesus mengajarkan agar kita bisa membedakan antara bagian Allah, bagian negara, dan bagian kita sendiri.
Alasan kita gagal menempatkan Tuhan sebagai prioritas pertama mungkin adalah ketakutan kalau-kalau ada kebutuhan mendesak di depan. Ingat, berkat itu datang dari Tuhan. Dia tentu tidak membiarkan kita berkekurangan (lih. Mzm. 37:25). Ketika kita menyisihkan terlebih dahulu untuk Tuhan, kita menunjukkan penghormatan kepada-Nya lebih dari sekadar memberikan sisa-sisa.
—LIN/PRANG
SETIAP ORANG YANG MENYISIHKAN BAGIAN TERBAIK BAGI TUHAN MENERIMA
BERKAT LEBIH ISTIMEWA DARIPADA MEREKA YANG HANYA MEMBERIKAN SISA
MINGGU KE-2
ANGKRINGAN ALA YESUS
1 Raja-Raja 2:26-4
Kata orang, berkunjung ke Yogyakarta belum lengkap jika tidak mampir ke angkringan yang merupakan alternatif tempat nongkrong yang murah. Dalam bahasa Jawa, angkringan berarti gerobak dorong untuk berjualan berbagai makanan dan minuman, yang mangkal di pinggir jalan. Orang bisa duduk santai di sekeliling gerobak atau bersila di lesehan yang disediakan si penjual. Pembeli dapat menikmati hidangan nasi kucing, gorengan, sate usus, dan minuman hangat sambil mengobrol asyik.
Di Alkitab, ada juga angkringan ala Yesus. Saat itu Yesus mengajak para murid untuk sarapan. Yesus sendiri yang menjadi pelayannya (ay. 12-13). Uniknya, kesempatan makan bersama ini dipakai Yesus untuk bercakap-cakap dengan para murid dan menyampaikan pesan khusus, terutama kepada Petrus (ay. 15). Pesannya, jika Petrus sangat mengasihi Tuhan, ia diminta untuk menggembalakan orang-orang yang memutuskan mengikuti Yesus, yang dianalogikan sebagai domba (ay. 16-19). Kadang-kadang pesan yang penting bisa disampaikan Tuhan pada kesempatan yang bersahaja.
Pesan penting dari Tuhan bukan hanya disampaikan melalui khotbah. Saat mengobrol, bertamasya, bekerja, memasak, atau apa pun kegiatannya, kita bisa mendapat pesan penting dari Tuhan. Tatkala kita mendapatkan pesan itu, mungkin kita bertanya: “Apakah ini benar-benar pesan dari Tuhan?” Bersyukurlah, karena justru rasa penasaran itu bisa dipakai Tuhan membawa kita bersekutu bersama-Nya, supaya kita bisa makin memahami maksud dan kehendak-Nya.
—YDS/www.renunganharian.net
BERSEKUTU BERSAMA TUHAN ITU INDAH, KITA BISA BERCAKAP-CAKAP DENGAN DIA
MINGGU KE-3
PENYEMBAHAN SEBAGAI RESPONS HATI
Markus 12:28-34
Penyembahan merupakan sikap yang timbul dari rasa hormat dan pemujaan yang kita lakukan kepada Tuhan dengan rendah hati dan juga pelayanan kasih kepada Tuhan, sebagai satu-satunya pribadi yang layak. Adalah mutlak bagi kita sebagai anak-anak-Nya untuk menyembah Tuhan, dan dalam hal ini Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan, "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Matius 4:10b). Hanya Tuhan-lah yang berhak menjadi satu-satunya obyek penyembahan kita, karena memang hanya Dia yang layak menerimanya, tiada yang lain.
Kita menyembah Tuhan karena eksistensi dan karya-Nya dan menyembah itu adalah respons kita dengan segenap pikiran, emosi, kehendak dan tubuh sebagai orang percaya atas seluruh keberadaan-Nya. Oleh karena itu melakukan tindakan penyembahan kepada Tuhan tidak dapat dilakukan asal-asalan atau seenaknya sendiri. Kita ini diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi pribadi yang responsif, artinya senantiasa memberikan respons untuk segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita yang disertai dengan ucapan syukur atas setiap campur tangan Tuhan, di mana karya-Nya itu seharusnya membangkitkan perasaan kagum dan hormat di dalam diri kita dan mendorong kita untuk memberi penyembahan kepada Dia, "Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya," (Wahyu 4:9).
Yang menjadi dasar dari sebuah penyembahan kepada Tuhan adalah kerendahan hati! Bila kita datang kepada Tuhan dengan suatu penyembahan yang didasari pada sikap rendah hati, maka penyembahan kita itu menyenangkan hati Tuhan, karena "TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya." (Mazmur 147:11). Selain itu, kita harus menyembah Tuhan dengan hati yang benar-benar tulus, bukan dibuat-buat, karena penyembahan itu bukan hanya berkenaan dengan ungkapan kata-kata indah dan manis di mulut, tetapi suatu ungkapan yang keluar dari dasar hati yang terdalam!
Sudahkah penyembahan kepada Tuhan mewarnai hari-hari kita?
Sumber : http://airhidupblog.blogspot.com
MINGGU KE-4
MASIH MURAH HATI
“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan
berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka
upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab
Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap
orang-orang jahat.”
(Lukas 6:35)
(Lukas 6:35)
Ilustrasi :
Lama tak bertemu, saya berkesempatan
bertemu Kak James, pembimbing rohani saya sewaktu kuliah. Sembari berjalan-jalan
di pusat perbelanjaan, ketika kami berhenti di sebuah kios, Kak James tiba-tiba
berkata: “Kamu ambil satu yang cocok, nanti saya yang bayar.” Saya pun segera
memilih baju yang saya ingini, tetapi sayang tidak ada ukuran yang sesuai.
Sekalipun tak jadi mendapat pakaian, saya bersyukur mendapati kemurahan hati
Kak James masih terjaga, seperti yang dahulu saya kenal.
Bisakah kemurahan hati seseorang
memudar? Bisa sekali! Namun sebaliknya, karakter murah hati dalam diri
seseorang juga bisa bertahan dalam waktu lama. Mengapa? Karena Allah sendiri
meneladankan hal ini. Ya, murah hati merupakan salah satu karakter yang
terlihat dalam diri Bapa Surgawi. Konsistensi Bapa Surgawi untuk bermurah hati
kepada manusia masih terlihat sampai hari ini. Allah masih menunjukkan kebaikan
kepada manusia yang tak tahu berterima kasih, bahkan orang-orang jahat masih
diizinkan menikmati “fasilitas kehidupan” sama seperti yang dinikmati oleh
orang-orang baik.
Tentu saja, kebaikan dan kemurahan hati
Allah tak lantas membuat kita berpikir untuk menjadi orang yang menyebalkan
hati Allah. Karena akan ada waktunya orang-orang yang menolak Dia dan
terus-menerus berbuat dosa, akan menerima hukuman atas perbuatan mereka. Namun,
kemurahan hati Allah hendaknya mengingatkan kita untuk dapat menjaga kemurahan
hati agar jangan sampai memudar dari kehidupan kita.
—GHJ/www.renunganharian.net




Komentar
Posting Komentar