Renungan Mingguan Bulan Juni
Minggu
ke-3
Mempertahankan Kejujuran
“Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah.”
Mazmur 64:11
https://www.kompasiana.com/agilshabib/56c794636523bd080fa72969/super-employee-berani-jujur-hebat
Secara teori semua orang mengajarkan
untuk hidup jujur, tetapi lucunya dalam banyak keadaan dunia justru cenderung
menolak kejujuran. Ada seorang teman yang justru tersingkir dari jabatannya
justru karena ia memilih untuk tetap jujur. Ia tidak mau ikut-ikutan melakukan
penggelembungan dana bersama pimpinan dan rekan-rekannya, dan akibatnya ia pun
disingkirkan. Betapa mahalnya harga kejujuran, begitu katanya, dan ia pun
sempat mempertanyakan apakah kejujuran sudah merupakan sebuah nilai yang tidak
bermakna apa-apa lagi, yang malah bisa merugikan ketika dilakukan. “Masih
adakah orang yang menghargai kejujuran?” katanya.
Alkitab mengajarkan pentingnya hidup dengan berlaku jujur dalam begitu banyak
kesempatan. Imbalan yang disediakan Tuhan bagi orang jujur pun bukan main
besarnya. Lihatlah ayat berikut ini: “Orang yang hidup dalam
kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan,
yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup
telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup
matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal
aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya
disediakan air minumnya terjamin.” (Yesaya 33:15-16). Betapa
besar nilai kejujuran di mata Tuhan. Mungkin di dunia ini kita bisa mengalami
kerugian atau bahkan malah mendapat masalah karena memutuskan untuk berlaku
jujur, seringkali dunia memang memperlakukan kita dengan tidak adil, tetapi itu
bukanlah masalah karena kelak dalam kehidupan selanjutnya yang abadi semua itu
akan diperhitungkan sebagai kebenaran yang berkenan di hadapan Allah. Dalam
Mazmur dikatakan: “Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung
pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah.” (Mazmur 64:11). Pada
saat ini mungkin kita rugi akibat memutuskan untuk jujur, tetapi kelak pada
saatnya kita akan bermegah dan bersyukur karena telah mengambil keputusan yang
benar.
Anggaplah itu sebuah ujian ketika
kita dipinggirkan akibat berlaku jujur dan menolak untuk ikut-ikutan berbuat
curang. Seperti layaknya ujian, untuk menghadapinya memang bisa jadi berat.
Tetapi lulus tidaknya kita dalam ujian akan sangat tergantung dari keseriusan
dan ketekunan kita dalam menghadapinya, dan juga tergantung dari bagaimana kita
menyikapinya. Mempertahankan kejujuran dalam hidup pun bisa demikian. Akan ada
saat-saat dimana anda merasa diperlakukan tidak adil, sudah jujur malah
disalahkan dan dirugikan. Meski berat, terimalah itu sebagai sebuah ujian, dan
fokuskan pandangan jauh ke depan, kepada sebuah kehidupan abadi yang akan anda
jalani kelak setelah fase di dunia ini selesai. Yakobus pun berkata: “Saudara-saudaraku,
anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai
pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan
ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya
kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4). Ujian
akan menumbuhkan ketekunan, dan dari sana kita bisa menghasilkan buah-buah yang
matang. Karakter kita akan disempurnakan lewat ujian-ujian itu. Ujian adalah
kesempatan bagi kita untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi, dan karena itu
seharusnya kita bisa berbahagia. Buat sesaat kecurangan mungkin bisa memberi
banyak keuntungan, tetapi itu semua hanyalah sesaat dan fana. Untuk sebuah
hidup yang abadi, kecurangan tidak akan pernah membawa keuntungan malah
mendatangkan kerugian. Jangan lupa bahwa Tuhan sudah berkata bahwa Dia tidak
akan menutup mata dari apapun yang kita lakukan dalam hidup kita.
Meski kita mungkin harus menanggung
konsekuensi berat akibat kejujuran kita, bertahanlah. Firman Tuhan berpesan: “Lakukanlah segala
sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:14). Ini
termasuk pula komitmen kita untuk tetap mempertahankan kejujuran dan kesetiaan
dengan tidak mengeluh terhadap konsekuensi apapun yang kita alami di dunia ini.
Karena sebagai anak-anak Allah dan bukan anak-anak dunia seharusnya membuat
kita tampil beda. Kita tidak boleh ikut-ikutan arus sesat dari angkatan yang
bengkok hatinya karena kita menyandang status sebagai anak-anak Tuhan. Dan
percayalah bahwa kelak pada saat Kristus datang kembali, kita akan melihat
bahwa perjuangan kita
terhadap kejujuran tidak akan sia-sia. Muda atau tua, siapapun kita,
peganglah prinsip kejujuran setinggi mungkin dan jangan gadaikan itu untuk
alasan apapun. Kepada Timotius Paulus berpesan: “Jangan seorangpun
menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang
percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam
kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12). Meskipun
masih muda kita tetap dituntut untuk bisa menjadi teladan dalam segala hal.
Kita hidup di dalam masyarakat yang mau menghalalkan segala cara, yang hidup
dengan standar-standar ganda dan yang tidak selalu memberikan penghargaan yang
tinggi atas penyampaian kebenaran dan kejujuran. Seperti itulah dunia hari ini,
tetapi bertahanlah dan pegang kuat prinsip-prinsip tersebut. Meski dunia
berlaku seperti itu, tetapi adalah hal yang tidak bisa ditawar bahwa pengikut
Kristus seharusnya memiliki standar kejujuran tinggi yang berbeda dari standar
yang ditetapkan dunia. Apapun situasinya, tetaplah pertahankan nilai-nilai
kejujuran dan kebenaran, jangan tukarkan itu dengan apapun, dan lihatlah pada
saatnya nanti setiap orang jujur akan bersukacita memetik buahnya.
Sumber : https://24hoursworship.com/

Komentar
Posting Komentar