Forgive and Make Peace With Yourself (Mengampuni dan Berdamai dengan Diri Sendiri) [RENUNGAN MINGGUAN BULAN NOVEMBER]
THE
LIGHT OF FORGIVING
Tema
Renungan Bulan November
Senin, 15 November
2021
Forgive
and Make Peace With Yourself
(Mengampuni
dan Berdamai dengan Diri Sendiri)
Yesaya
43:18-19
“Janganlah
ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari
zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang
sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di
padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”
Banyak anak Tuhan yang tidak bisa bergerak kemana-kemana karena belum
berdamai dengan masa lalu kita. Kita seringkali masih teringat kepada rasa
kekecewaan kita, rasa dipermalukan oleh orang-orang, perasaan ditinggalkan,
dikhianati, trauma, penyesalan yang akhirnya membuat kita tidak mencapai
potensi maksimal di dalam hidup kita.
Pengampunan diri pada dasarnya
berasal dari pemahaman kita tentang pengampunan dari Allah. Alkitab menjelaskan
bahwa semua orang telah berdosa terhadap Allah (Roma 3:23), dan semua perbuatan
salah kita adalah pelanggaran terhadap Allah (Mazmur 51:4; Kejadian 39:9).
Jadi, pokok yang kita butuhkah adalah pengampunan dari Allah, yang tersedia
bagi kami melalui pribadi dan karya Yesus Kristus. Semua orang yang beriman
pada Yesus sudah sepenuhnya diampuni dari dosanya. Mereka terhitung sebagai
orang benar di hadapan Allah, dibenarkan secara kekal (Roma 5:1-11; Efesus
1:13-14, 2:1-10). Kita masih bergumul dengan dosa, namun Allah setia dan pasti
akan menyucikan dan memulihkan persekutuan dengan kita ketika kita mengakui
dosa kita pada-Nya (1 Yohanes 1:9; 2:1-2). Pengorbanan Yesus cukup bagi semua
dosa kita. Oleh karena itu, pengampunan diri sebetulnya berhubungan erat dengan
menerima pengampunan Allah.
Adalah membantu jika kita
membandingkan cara kita mengampuni orang lain dengan pengampunan diri kita.
Matius 18:21-35 merekam perumpamaan hamba yang tidak mengampuni. Di dalam kisah
itu, seorang tuan mengampuni hutang hambanya yang luar biasa besar, namun
kemudian hamba itu menuntut hutang yang jauh lebih kecil dari sesama hambanya.
Tuan itu berkata, “Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku
telah mengasihani engkau?” (Matius 18:33).
Seperti kita telah menerima
pengampunan dari Allah, kitapun harus mengampuni orang lain. Standar kita tidak
lebih tinggi dari standar Allah. Dosa kita terhadap sesama kita adalah dosa
terhadap Allah; ialah hukum-Nya yang telah kita langgar. Seseorang termasuk
diri kita, tidak mungkin lebih menyalahi sesama kita lebih dari menyalahi
Allah. Ketika kita mengerti bahwa standar Allah ialah yang terpenting dan bahwa
Ia telah menyediakan pengampunan bagi kita, kita dapat menawarkan pengampunan
terebut kepada orang lain.
Meskipun ini terdengar sebagai
konsep yang sederhana, mengampuni diri tidaklah mudah. Kita menyayangkan
pilihan kita yang salah, dan kita merasa bersalah karena telah menyakiti orang
lain dan diri kita sendiri. Musuh kita terus melayangkan tuduhan dan mengungkit
dosa-dosa kita. Orang lain juga mungkin melakukan hal yang sama. Bahkan
terkadang kita berpikir bahwa kita tidak bisa mengampuni diri, seolah-olah
“hukuman” yang kita rasakan dapat menebus kesalahan kita. Perasaan ini bukan
pesan Injil. Sebaliknya, Alkitab mengajar bahwa kita tidak mungkin menebus dosa
pribadi kita. Kita adalah pendosa yang mati dalam pelanggaran kita (Roma 3:23,
6:23; Efesus 2:1-10) dan tanpa Kristus, tidak memiliki harapan (Yohanes
3:16-18,36; Roma 5:6-8). Injil mengajar bahwa murka Allah atas dosa kita telah
dicurahkan ke atas Yesus; keadilan telah dijalankan. Hidup terus-menerus dalam
rasa bersalah dan penghukuman-diri adalah penolakan terhadap kebenaran Injil.
Justru mengampuni diri sendiri
berarti mengakui keberdosaan pribadi kita. Yang disyaratkan adalah mengaku
bahwa kita tidak sempurna dan tidak mungkin mencapai kesempurnaan secara
mandiri. Kita harus mengakui kebejatan kita. Kita perlu menolak ide bahwa upaya
kita dapat menebus kesalahan kita. Kita harus menerima dan hidup dalam rahmat
Allah. Ketika kita merendahkan diri untuk menerima kasih-karunia Allah, kita dapat
melepaskan kebencian kita terhadap diri kita sendiri. Kita dapat mencapai
pemahaman bahwa Sang Pencipta begitu mengasihi kami sehingga Ia tidak hanya
menciptakan kita, tetapi juga melampaui kesalahan dan juga pemberontakan yang
telah kita terhadap-Nya.
Yang luar biasa tentang pengampunan
Allah adalah bahwa sifatnya bukan seperti transaksi; sifatnya berkaitan dengan
relasi. Ketika kita diselamatkan, kita menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12).
Kita menerima pendiaman Roh Kudus yang mengubah kita (Filipi 2:12-13). Ia
menyertai kita selamanya (Yohanes 14:16-17; Efesus 1:13-14). Dosa kita memang
membawa akibat pedih yang nyata. Namun Allah setia bahkan dalam menggunakan
semuanya bagi kemuliaan-Nya dan kebaikan kita (Roma 8:28-30; 2 Korintus 1:3-7).
Kita tidak dibiarkan tenggelam dalam akibat dosa kita. Sebaliknya, Allah
memampukan diri kita melewati semuanya, dan kita dapat melihat kemampuan-Nya
menyelamatkan segala sesuatu (Yakobus 1:2-5).
Mengampuni diri merupakan tantangan
yang besar ketika dosa kita membawa dampak buruk pada orang lain. Penting
meminta pengampunan dari orang yang kita salahi dan berusaha mencari perdamaian
jika mungkin. Sekali lagi, yang memampukan pendamaian ialah Allah. Hidup dalam
rasa malu tidak dapat memulihkan hubungan yang rusak atau menghapus luka yang
kita sebabkan. Tetapi, kebenaran Injil mampu melakukannya.
Mengingat dosa masa lalu dapat
menjadi peringatan untuk memuji Allah atas belas kasih dan rahmat-Nya. Akibat
negatif dari dosa kita dapat menjadi pengingat akan kesetiaan Allah dalam
semuanya itu. Selain itu, dapat juga menjadi pengingat untuk berdoa dan
mengandalkan kuasa pertahanan, keselamatan, dan perubahan dari Allah.
Mengampuni diri-sendiri tidak lain dari sepenuhnya menerima pengampunan Allah.
Di dalam itu, ada begitu banyak kebebasan yang tersedia (Galatia 5:1)
Tuhan Yesus Memberkati!
Komentar
Posting Komentar