Receive The Light of Blessing fromForgiveness (Terima Cahaya Berkat dari Pengampunan) [Renungan Mingguan Bulan November]
THE
LIGHT OF FORGIVING
Tema
Renungan Bulan November
Senin, 29 November
2021
Receive
The Light of Blessing fromForgiveness
(Terima
Cahaya Berkat dari Pengampunan)
Biasanya kita sulit membayangkan
manfaat pengampunan ketika kita merasa sakit hati dan marah karena perbuatan
orang lain terhadap kita. Kesediaan untuk mengampuni orang lain akan menjadi
lebih sulit jika tidak ada permintaan maaf atau bahkan pengakuan bersalah dari
pihak yang telah menyakiti kita.
Kesulitan dalam memaafkan sering kali disebabkan
anggapan bahwa pengampunan itu merupakan hadiah bagi orang yang telah menyakiti
kita. Orang berpikir, bagaimana mungkin orang sudah bersalah kepada kita, lalu
seenaknya mau diampuni! Padahal sebenarnya mengampuni adalah hadiah untuk diri
kita sendiri.
Ketika kita memilih untuk mengampuni,
kita menuai manfaat yang tidak terbatas dari pengampunan. Maka ketika Petrus
bertanya, “Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia
berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat. 18:21), Yesus memberi
jawaban lain. "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. (Mat. 18:22). Yesus mau
menyampaikan manfaat dan berkat yang tidak terbatas bagi orang yang bersedia
mengampuni sesamanya.
Apakah pengampunan itu? Pengampunan
seperti apa yang dimaksudkan oleh Yesus kepada para pengikut-Nya? Pengampunan
adalah tindakan atau pilihan untuk melepaskan pelaku dari hukuman kita dan
memercayakan semuanya kepada Tuhan. Kamus mendefinisikan pengampunan sebagai
"pembatalan hutang". Kita semua percaya, bahwa kita semua diampuni atas
pelanggaran kita melalui Kristus rela mati di kayu salib. Pekerjaan Yesus di
kayu saliblah yang membatalkan hutang kita. Pengampunan dari Yesus adalah tanpa
syarat. Kita harus bisa memaafkan kesalahan orang lain terlepas dari apakah
sang pelaku meminta maaf atau mau bertanggung jawab. Dengan kata lain,
kemampuan kita untuk memaafkan tidak bergantung pada tindakan orang lain.
Kitab Suci menulis, “Bersikaplah baik
satu sama lain, lembut hati, saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam
Kristus telah mengampuni kamu” (Ef. 4:32). ”Sabarlah kamu seorang terhadap yang
lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam
terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat
jugalah demikian” (Kol. 3:13). Jawaban Yesus kepada Petrus, maupun pesan Kitab
Suci, menawarkan sebuah pilihan hidup. Memilih untuk mengampuni berarti kita
memilih untuk menikmati manfaat pengampunan.
Pengampunan membawa ‘berkat’. Yesus
menjawab, “berbahagialah, mereka yang mendengar firman Tuhan dan
menaatinya”(Luk.11:28). Tidak memaafkan adalah beban yang berat juga. Hal
tersebut tetap bersama kita dan melelahkan kita, memengaruhi banyak aspek
kehidupan kita. Ketidakmengertian mengikis kesehatan kita dan menumbuhkan
kepahitan dan kebencian. Beban tidak bisa mengampuni akan terus bertambah –
menyakiti diri kita sendiri lebih dari orang lain.
Maka pengampunan itu membebaskan kita
dari ‘beban’ yang menggerogoti diri dan hidup kita. Pengampunan meningkatkan
kualitas kesehatan fisik, seperti menjaga detak jantung, hipertensi, dan lain
sebagainya. Pengampunan menciptakan rasa damai, tidak berprasangka buruk, sedia
memberi senyum dan memberikan tempat di hati kita untuk orang lain. Rasul
Petrus (1 Pet. 3:9) menulis, “..janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan,
atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati,
karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..”
Semoga kita semua dapat menerima dan
menjadi sumber berkat tersebut!!
❤❤❤
BalasHapus