We are sinners but He is the Redeemer (Kita yang berdosa namun Dia yang menebus) [Renungan Mingguan Bulan November]

 

THE LIGHT OF FORGIVING

Tema Renungan Bulan November

 

 

Selasa, 9 November 2021

We are sinners but He is the Redeemer

(Kita yang berdosa namun Dia yang menebus)

 

Kita tidak tahu, sudah berapa kali kita memperingati hari kematian Kristus, tapi apakah itu sudah cukup untuk membuat kita sadar dan hidup melakukan kehendak Tuhan?

Ayat bacaan :

Yesaya 53:3-5; Galatia 3: 13

Yesaya 53:3-5

Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Galatia 3: 13

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"

Yesus menjadi terkutuk demi menggenapi keselamatan kita. Keselamatan itu menjadi sangat penting untuk dipikirkan, sebab bukan saja orang percaya tapi semua orang beragama berusaha untuk mencari keselamatan. Dengan semua ritual agama yang dilakukan, manusia berpikir bisa mencapai keselamatan. Kalau ritual agama memang bisa menyelamatkan manusia, berarti keselamatan itu bukan terletak pada kehendak / kedaulatan Tuhan. Selain itu, manusia juga berusaha memperbaiki moral, etika dan tingkah laku untuk mendapatkan keselamatan. Namun apakah dengan semuanya itu manusia bisa memperoleh keselamatan ?

Ketika Allah memberikan hukum kepada Musa untuk dilakukan, siapa yang dapat melakukannya? Justru lewat hukum Taurat itu, mereka disadarkan betapa berdosanya manusia itu dan betapa manusia tidak pernah mampu mencapai standar Allah. Israel berkali-kali gagal, gagal dan gagal; mereka tidak setia dan memberontak kepada Allah. Manusia lainnya berpikir bisa mencapai keselamatan dengan kecerdasan atau dengan kekayaannya. Manusia berpikir dengan kekayaannya bisa membeli keselamatan. Gereja pernah terjebak dalam kesalahan ini ketika Paus memperjualbelikan surat pengampunan dosa.*Semua usaha manusia TIDAK akan pernah bisa mencapai keselamatan* .

Paulus berkata kepada orang-orang di Efesus 2:1: Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.

Efesus 2:8-9: Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Jadi keselamatan itu bukan diberikan karena usaha manusia untuk

- mengejar atau mencari Allah

- berbuat baik

- melakukan aktivitas keagamaan - merespon panggilan Allah.

Keselamatan adalah totalitas anugerah Allah kepada manusia yang tidak berdaya. Karya Kristus di kayu salib mengingatkan betapa berdosanya manusia itu. Yesus rela menjadi terkutuk demi menggenapi anugerah keselamatan kepada manusia. Apakah sebenarnya TERKUTUK itu ? Ketika Kain membunuh Habel, ia dibuang dari hadapan Allah. Keterkutukan adalah ketika manusia dibuang dari hadapan Allah. Manusia memang selayaknya dibuang dari hadapan Tuhan karena manusia sudah berdosa. Tetapi Yesus Kristus yang sangat Agung dan Mulia, yang sama sekali tidak bersalah, Dia menanggung kutukan itu. Mengapa Yesus mau menanggung kutukan itu ? Karena Dia adalah Allah yang setia kepada perjanjian . Dia tak pernah mengingkari janji suci yang Ia berikan kepada Adam dan Hawa ketika mereka jatuh dalam dosa.

Kejadian 3:15

Janji yang diberikan kepada Adam ketika Adam jatuh ke dalam dosa : keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular, keturunan ular akan meremukkan tumitnya. Janji dalam rentang ribuan tahun itu kemudian digenapi dalam Kristus. Ketika manusia pertama ditempatkan Tuhan di taman Eden, sesungguhnya manusia itu tidak pernah punya kehendak bebas yang sebebas-bebasnya, manusia harus taat kepada hukum yang diberikan Allah. Ketika manusia melanggar hukum Allah, maka manusia harus terkutuk, artinya terpisah dari Allah. Jadi jelas bahwa keterkutukan adalah keterpisahan dari Allah karena manusia melanggar perjanjian/ hukum / perintah yang diberikan Allah . Kutuk dari Adam bersifat universal, artinya kutuk itu berlaku untuk semua keturunan Adam.

Paulus membandingkan, bahwa melalui Adam yang pertama semua manusia telah berdosa. Tetapi melalui Adam yang kedua, yakni Kristus, manusia diberikan keselamatan. Maka Yesus harus tersalib untuk menanggung kutuk yang tidak seharusnya Dia tanggung. Dia tersalib untuk menanggung kehinaan dan penderitaan bukan karena Dia yang melakukan kejahatan/ kesalahan, bukan karena Dia melanggar hukum, janji atau ketetapan2 Allah. Tetapi Yesus mengambil tempat yang seharusnya bagi kita manusia. Misteri salib tidak akan pernah habis kita pikirkan. Ketika kita melihat konsekuensi dari keterkutukan itu, ketika Yesus menanggung kutuk / menjadi terkutuk, telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya dengan begitu jelas dalam Yesaya 53 : Dia begitu hina, tidak berdaya, seperti domba dibawa ke pembantaian. Semua orang yang menatap salib itu memberikan hinaan, celaan, olokan dan cercaan. Dia hancur, dipukul, disesah.

Dia menanggung kutuk sampai pada titik terendah, yang digambarkan Paulus : Dia yang dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, Dia mengambil rupa manusia, Dia Allah yang tak terbatas mengambil rupa manusia yang terbatas. Dia taat sampai mati di kayu salib : sampai pada titik terendah dalam kehidupanNya, untuk menunjukkan cintaNya kepada manusia yang Ia cintai, pada manusia yang kepadanya Ia berkenan.

Salib menggambarkan kebobrokan / kehancuran manusia. Ahli-ahli taurat dan imam-imam, orang farisi dan Pilatus, bahkan umat Israel berpikir bahwa mereka mendapatkan kemenangan pada waktu penyaliban Yesus. Salib menunjukkan keberadaan manusia yang sesunguhnya, yakni kejahatan, kehinaan dan ketidak berdayaan manusia serta kematian yang harus dipikul manusia.

Tidak ada satu manusia pun yang sanggup melakukan hukum taurat, termasuk seorang Saulus, walaupun ia telah berusaha mati-matian untuk melakukan Taurat. Saulus gagal, ia tidak mampu memahami kehendak Allah. Oleh sebab itu ia mengatakan bahwa apa yang dia buat dahulu ( kekayaan, kemuliaan, posisi pemimpin tertinggi dalam agama, kegigihan melakukan taurat ), semua itu tidak ada artinya dibandingkan pengenalannya akan Kristus Yesus yang jauh lebih mulia dari semuanya itu. Itulah sebabnya Paulus mengarakan ia rela terkutuk demi kaum sebangsanya asalkan mereka bisa mengenal Kristus. Tapi Paulus tidak bisa menjadi penebus, ia mengatakan : "sekalipun darahku dicurahkan sebagai korban bakaran, tidak akan bisa membawa kaum sebangsaku."

 

KESIMPULAN

Konsekuensi kematian Yesus di salib dalam menggenapi keselamatan manusia :

1.     Keselamatan adalah mutlak anugerah Allah dalam Kristus Yesus. Tak ada yang dapat menggantikan Kristus untuk menebus, menyelamatkan, mengampuni dosa, menyucikan manusia lewat darahnya.

2.     Keselamatan bukan hasil pencapaian / hasil orestasi majusia karena ia berbuat baik/ memberi korban2 / melakukan ritual agamawi.

3.     Keselamatan bukan hasil pencapaian karena kita rajin beribadah / setia melayani / ketika kita belajar Alkitab.

4.     Keselamatan adalah pemberian Allah yang suci kepada manusia yang kepadanya Allah berkenan.

5.     Keselamatan sempurna dan final karena Kristus Yesus adalah Allah yang sempurna, Allah yang sejati, Allah yang kudus, bukan karena kita yang layak menerimanya. Darah Yesus yang dicurahkan di kayu salib adalah darah yang suci.

Ibrani : Imam besar yang mengorbankan darahNya untuk pengampunan dosa. Ia telah menyerahkan diri/ menyerahkan darahNya. Petrus berkata kita ditebus bukan dengan emas perak atau barang2 yang mahal atau darah kambing domba, tapi oleh darah yang suci yaitu darah Anak Domba Allah, Yesus Kristus Tuhan.

Musa rela namanya dihapus dari kitab kehidupan supaya Allah berkenan kepada umatNya, tapi Musa tidak bisa, karena ia pun manusia berdosa dan ada dalam garis kerurunan Adam Hawa. Hanya Kristus yang telah menebus/ menggantikan kita, menjadi subsitusi untuk menanggung dosa umat yang kepada Nya Ia berkenan.

Sekarang, bagaimana hidup kita ketika kita telah ditebus / diselamatkan oleh darahNya? Kita tidak lagi jadi budak dosa, tapi sebagai hamba kebenaran. Kita harus melakukan apa yang jadi kehendak kebenaran. Kita sebagai hamba Kristus Yesus, yang kita lakukan adalah apa yang jadi Kehendak Allah

demikian.**



Tuhan Yesus Memberkati 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Christmas and New Year_Menjadi Ciptaan Baru di Natal dan Tahun Baru

SEMINAR UKK 2024_CINTA, SEKS, DAN DATTING

Kekuatan Iman di Tengah Pencobaan_Iman di Tengah Tragedi