Renungan Bulan Februari
MINGGU KE-1
MINGGU KE-3
MINGGU KE-4
Seorang anak kerasukan roh yang membisukan dan menulikan. Setiap kali
roh itu menyerang dia, roh itu menbanting-bantingnya ke tanah, mulutnya
berbusa, giginya bekertakkan, dan tubuhnya kejang. Murid Yesus mencoba
mengusir roh jahat itu, namun tidak dapat. Hanya Yesus saja yang mampu
mengeluarkan roh jahat dari anak itu. Yesus itu luar biasa.
Bisa jadi kita juga adalah orang yang “kerasukan” setan yang
membisukan dan menulikan. Ketika roh itu menyerang kita, kita tidak
mampu mendengarkan sabda Allah, kita juga tidak mampu menyuarakan cinta
dan kebenaran, kita dibanting-banting oleh konflik kepentingan atau
perhitungan untung-rugi. Kita bisu bertutur dan tuli mendengar cinta
Allah dan kebenaran-Nya.
Pertanyaannya adalah: adakah orang yang berupaya menyembuhkan kita? Pernahkah kita sendiri menyadari kebisuan dan ketulian itu?
Pasti bukan hal mudah mengusir “setan” yang membisukan dan menulikan
kita. Membiarkan Yesus hadir dan berkarya dalam diri kita adalah
resepnya. Doa dan puasa adalah caranya. Hidup bersama dan di dalam
Kristus akan memampukan kita untuk menyuarakan sekaligus mendengarkan
kasih dan kebenaran.
Ya Bapa, ajarilah aku berdoa dan berilah aku kekuatan agar sanggup
mendengarkan sekaligus menyuarakan kebenaran dan kasih sayang-Mu. Amin.
Sumber : www.renunganharian.net/2018.html
MINGGU KE-2
Orang yang Mencintai Kebijaksanaan, Dicintai oleh Tuhan
Kebijaksanaan menjunjung tinggi para anaknya, dan menaruh perhatian
pada orang yang mencarinya. Barangsiapa mencintai kebijaksanaan mencintai
kehidupan, dan barangsiapa pagi-pagi menghadapinya akan penuh sukacita.
Barangsiapa berpaut pada kebijaksanaan mewarisi kemuliaan, dan ia
diberkati Tuhan setiap langkahnya. Barangsiapa melayani kebijaksanaan,
berbakti kepada Yang Kudus, dan barangsiapa mencintai kebijaksanaan
dicintai oleh Tuhan. Barangsiapa mendengarkan kebijaksanaan akan
memutuskan yang adil, dan aman sentosalah kediaman orang yang
mengindahkannya.
Jika orang percaya pada kebijaksanaan niscaya ia mewarisinya, dan
keturunannya akan tetap memilikinya. Boleh jadi ia dituntun kebijaksanaan
lewat jalan yang berbelok-belok dahulu, sehingga ia takut dan
gemetar; boleh jadi kebijaksanaan menyiksa dia sebagai siasat sampai
dapat percaya padanya, dan mengujinya dengan segala aturannya.
Tetapi kemudian kebijaksanaan kembali kepadanya dengan kebaikan yang
menggembirakan,dan menyingkapkan kepadanya pelbagai rahasia. Tetapi jika
orang sampai menyimpang, maka ia akan dibuang oleh kebijaksanaan dan
diserahkan kepada kebinasaan.
MINGGU KE-3
BEKERJA GIAT DI LADANG
TUHAN
Baca: Lukas 10:1-12
"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.
Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan
pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Lukas
10:2
Tuhan
memanggil setiap orang percaya untuk bekerja di ladang-Nya, dan dunia ini
adalah ladang yang Ia percayakan untuk digarap.
Tidaklah cukup orang percaya hanya tampak rajin beribadah ke gereja
saja; kita harus lebih dari itu, yaitu
punya hati yang terbeban untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan terlibat di
dalamnya. Kita harus memiliki roh yang
menyala-nyala untuk melayani Tuhan, bukan hanya puas menjadi jemaat yang pasif
tanpa melakukan apa-apa. "Janganlah
hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah
Tuhan." (Roma 12:11).
Selagi ada waktu dan kesempatan kita harus
melayani Tuhan dengan sekuat tenaga, bekerja bagi Dia tanpa kenal lelah. Mengapa?
Karena Tuhan Yesus sendiri telah memberikan sebuah teladan bagaimana Ia
bekerja dan melayani. Seluruh keberadaan
hidup-Nya dipersembahkan untuk mengerjakan tugas Bapa, bahkan sampai mati di
kayu salib. Tuhan Yesus memperingatkan, "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang
akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup
yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang
disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." (Yohanes
6:27). Mengingat sedikit waktu lagi
kedatangan Tuhan yang kedua kali akan tiba, maka sisa waktu yang ada hendaknya
kita pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk bekerja bagi Tuhan. Renungkan:
untuk membuat sepotong kue diperlukan banyak pekerja; kalau kue yang kelihatannya sepele, yang
sekali makan langsung habis memerlukan begitu banyak orang yang terlibat untuk membuatnya,
apalagi pekerjaan memberitakan Injil ke seluruh pelosok, suku, bangsa, kaum dan
bahasa di seluruh dunia, bukankah diperlukan lebih banyak pekerja?
Tuaian
di luar sana begitu banyak, tetapi sayang pekerja sangat sedikit alias tidak
sebanding. Kita tidak mungkin hanya
mengandalkan para pendeta atau fulltimer yang bekerja, karena sebesar apa pun
energi yang mereka keluarkan tidak akan mencukupi.
"Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang
mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada
seorangpun yang dapat bekerja." Yohanes
9:4
MINGGU KE-4
BERTAHAN DI TENGAH GONCANGAN DUNIA
Baca: Mazmur 46:1-12
"Allah
itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam
kesesakan sangat terbukti."
Mazmur 46:1
Semua orang mengakui bahwa keadaan dunia bertambah hari tidak bertambah
baik, goncangan demi goncangan terjadi di mana-mana, "Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan
goncang,..." (ayat 7). Perilaku manusia
pun semakin tak terkendali karena mereka tidak lagi memiliki hati yang takut
akan Tuhan. Haruskah orang percaya
terbawa arus dunia ini? "Karena itu
harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita
jangan hanyut dibawa arus." (Ibrani
2:1). Jika kita berusaha untuk
menjadi 'serupa' dengan dunia maka hidup kita tidak lagi
memiliki pengaruh, alias gagal menjadi garam dan terang dunia. Justru di tengah goncangan dan degradasi
moral seperti inilah dibutuhkan orang-orang yang berani membuat perbedaan.
Tugas itu ada di pundak kita sebagai orang
percaya yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang
ajaib (baca 1 Petrus 2:9). "Karena itu, saudara-saudaraku,
berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab
jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung." (2 Petrus 1:10). Memang untuk menjadi pribadi yang berbeda
tidaklah mudah, ada banyak tekanan dan tantangan yang selalu mencoba untuk
menghadang langkah kita. Bagaimana
supaya kita dapat bertahan dan tetap aman?
Senantiasalah berpaut kepada Tuhan.
"Sebab jika kamu sungguh-sungguh berpegang pada perintah yang
kusampaikan kepadamu untuk dilakukan, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan
hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan berpaut
pada-Nya," (Ulangan 11:22),
maka "Tidak ada yang akan dapat
bertahan menghadapi kamu:" (Ulangan
11:25).
Berpaut kepada Tuhan berarti memiliki
penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan terus melekat kepada-Nya. Inilah janji Tuhan terhadap orang-orang yang
berpaut kepada-Nya, "...Aku akan
meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia
berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan,
Aku akan meluputkannya dan memuliakannya."
(Mazmur 91:14-15).
"TUHAN semesta alam menyertai kita,
kota benteng kita ialah Allah Yakub."
Mazmur 46:12




Komentar
Posting Komentar