Renungan Bulan Februari

MINGGU KE-1



Seorang anak kerasukan roh yang membisukan dan menulikan. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu menbanting-bantingnya ke tanah, mulutnya berbusa, giginya bekertakkan, dan tubuhnya kejang. Murid Yesus mencoba mengusir roh jahat itu, namun tidak dapat. Hanya Yesus saja yang mampu mengeluarkan roh jahat dari anak itu. Yesus itu luar biasa. 
   
Bisa jadi kita juga adalah orang yang “kerasukan” setan yang membisukan dan menulikan. Ketika roh itu menyerang kita, kita tidak mampu mendengarkan sabda Allah, kita juga tidak mampu menyuarakan cinta dan kebenaran, kita dibanting-banting oleh konflik kepentingan atau perhitungan untung-rugi. Kita bisu bertutur dan tuli mendengar cinta Allah dan kebenaran-Nya.

Pertanyaannya adalah: adakah orang yang berupaya menyembuhkan kita? Pernahkah kita sendiri menyadari kebisuan dan ketulian itu?

Pasti bukan hal mudah mengusir “setan” yang membisukan dan menulikan kita. Membiarkan Yesus hadir dan berkarya dalam diri kita adalah resepnya. Doa dan puasa adalah caranya. Hidup bersama dan di dalam Kristus akan memampukan kita untuk menyuarakan sekaligus mendengarkan kasih dan kebenaran.

Ya Bapa, ajarilah aku berdoa dan berilah aku kekuatan agar sanggup mendengarkan sekaligus menyuarakan kebenaran dan kasih sayang-Mu. Amin.

MINGGU KE-2 


Orang yang Mencintai Kebijaksanaan, Dicintai oleh Tuhan


Kebijaksanaan menjunjung tinggi para anaknya, dan menaruh perhatian pada orang yang mencarinya. Barangsiapa mencintai kebijaksanaan mencintai kehidupan, dan barangsiapa pagi-pagi menghadapinya akan penuh sukacita.

Barangsiapa berpaut pada kebijaksanaan mewarisi kemuliaan, dan ia diberkati Tuhan setiap langkahnya. Barangsiapa melayani kebijaksanaan, berbakti kepada Yang Kudus, dan barangsiapa mencintai kebijaksanaan dicintai oleh Tuhan. Barangsiapa mendengarkan kebijaksanaan akan memutuskan yang adil, dan aman sentosalah kediaman orang yang mengindahkannya.

Jika orang percaya pada kebijaksanaan niscaya ia mewarisinya, dan keturunannya akan tetap memilikinya. Boleh jadi ia dituntun kebijaksanaan lewat jalan yang berbelok-belok dahulu, sehingga ia takut dan gemetar; boleh jadi kebijaksanaan menyiksa dia sebagai siasat sampai dapat percaya padanya, dan mengujinya dengan segala aturannya.

Tetapi kemudian kebijaksanaan kembali kepadanya dengan kebaikan yang menggembirakan,dan menyingkapkan kepadanya pelbagai rahasia. Tetapi jika orang sampai menyimpang, maka ia akan dibuang oleh kebijaksanaan dan diserahkan kepada kebinasaan.

MINGGU KE-3 

BEKERJA GIAT DI LADANG TUHAN
 Baca:  Lukas 10:1-12


"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."  Lukas 10:2

Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk bekerja di ladang-Nya, dan dunia ini adalah ladang yang Ia percayakan untuk digarap.  Tidaklah cukup orang percaya hanya tampak rajin beribadah ke gereja saja;  kita harus lebih dari itu, yaitu punya hati yang terbeban untuk mendukung pekerjaan Tuhan dan terlibat di dalamnya.  Kita harus memiliki roh yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan, bukan hanya puas menjadi jemaat yang pasif tanpa melakukan apa-apa.  "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  (Roma 12:11).

Selagi ada waktu dan kesempatan kita harus melayani Tuhan dengan sekuat tenaga, bekerja bagi Dia tanpa kenal lelah.  Mengapa?  Karena Tuhan Yesus sendiri telah memberikan sebuah teladan bagaimana Ia bekerja dan melayani.  Seluruh keberadaan hidup-Nya dipersembahkan untuk mengerjakan tugas Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib.  Tuhan Yesus memperingatkan,  "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."  (Yohanes 6:27).  Mengingat sedikit waktu lagi kedatangan Tuhan yang kedua kali akan tiba, maka sisa waktu yang ada hendaknya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk bekerja bagi Tuhan.  Renungkan:  untuk membuat sepotong kue diperlukan banyak pekerja;  kalau kue yang kelihatannya sepele, yang sekali makan langsung habis memerlukan begitu banyak orang yang terlibat untuk membuatnya, apalagi pekerjaan memberitakan Injil ke seluruh pelosok, suku, bangsa, kaum dan bahasa di seluruh dunia, bukankah diperlukan lebih banyak pekerja?

Tuaian di luar sana begitu banyak, tetapi sayang pekerja sangat sedikit alias tidak sebanding.  Kita tidak mungkin hanya mengandalkan para pendeta atau fulltimer yang bekerja, karena sebesar apa pun energi yang mereka keluarkan tidak akan mencukupi.
"Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja."  Yohanes 9:4


MINGGU KE-4 

BERTAHAN DI TENGAH GONCANGAN DUNIA
Baca:  Mazmur 46:1-12


"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti."  
Mazmur 46:1

Semua orang mengakui bahwa keadaan dunia bertambah hari tidak bertambah baik, goncangan demi goncangan terjadi di mana-mana,  "Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang,..."  (ayat 7).  Perilaku manusia pun semakin tak terkendali karena mereka tidak lagi memiliki hati yang takut akan Tuhan.  Haruskah orang percaya terbawa arus dunia ini?  "Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus."  (Ibrani 2:1).  Jika kita berusaha untuk menjadi  'serupa'  dengan dunia maka hidup kita tidak lagi memiliki pengaruh, alias gagal menjadi garam dan terang dunia.  Justru di tengah goncangan dan degradasi moral seperti inilah dibutuhkan orang-orang yang berani membuat perbedaan.

Tugas itu ada di pundak kita sebagai orang percaya yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib  (baca  1 Petrus 2:9)"Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung."  (2 Petrus 1:10).  Memang untuk menjadi pribadi yang berbeda tidaklah mudah, ada banyak tekanan dan tantangan yang selalu mencoba untuk menghadang langkah kita.  Bagaimana supaya kita dapat bertahan dan tetap aman?  Senantiasalah berpaut kepada Tuhan.  "Sebab jika kamu sungguh-sungguh berpegang pada perintah yang kusampaikan kepadamu untuk dilakukan, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan berpaut pada-Nya,"  (Ulangan 11:22), maka  "Tidak ada yang akan dapat bertahan menghadapi kamu:"  (Ulangan 11:25).

Berpaut kepada Tuhan berarti memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan terus melekat kepada-Nya.  Inilah janji Tuhan terhadap orang-orang yang berpaut kepada-Nya,  "...Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya."  (Mazmur 91:14-15).


"TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub."  Mazmur 46:12






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Christmas and New Year_Menjadi Ciptaan Baru di Natal dan Tahun Baru

SEMINAR UKK 2024_CINTA, SEKS, DAN DATTING

Kekuatan Iman di Tengah Pencobaan_Iman di Tengah Tragedi