Renungan Bulan Maret
MINGGU KE-1
MINGGU KE-2
“Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba,
dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku
Israel.” (Amos 7:15)
Misalnya : "Ini orang parkir seenak jidatnya saja!" teriak seorang pengemudi yang tidak bisa keluar dari parkiran karena mobilnya terhalang sebuah mobil lain yang parkir seenaknya. Tukang parkir menjadi sasaran empuk karena seharusnya ia melarang mobil itu untuk parkir menutupi mobil lain. Tukang parkir itu pun kemudian kalang kabut mencari pemilik mobil tapi gagal menemukannya. Saya parkir kebetulan tidak jauh dari situ sehingga melihat kejadiannya secara jelas. Sementara si pemilik mobil yang terhalang masih marah-marah sambil membentak tukang parkir, belum juga ada tanda-tanda pengemudi mobil dibelakangnya kembali ke mobilnya. Pernahkah anda melihat hal ini? Rasanya kita sering melihat kejadian seperti ini, atau bahkan mengalaminya sendiri.
Tidak hanya soal parkir sembarangan, kitapun kerap kesal melihat orang yang mempergunakan fasilitas umum sesuka hatinya tanpa mempedulikan orang yang mengantri dibelakang mereka. Di saat kita tidak sedang buru-buru saja rasanya sudah kesal, apalagi kalau kita sedang terjepit waktu. Bagaimana dengan orang yang berkendara di jalanan secara ugal-ugalan? Atau orang yang memencet klakson berlebihan di saat macet? Polisi yang menutup jalan seenaknya sehingga kita harus memutar jauh? Ada begitu banyak hal dalam hidup kita yang bisa memancing emosi dengan cepat. Alasan untuk emosi mungkin memang ada, tapi jika kita tidak mengontrolnya cepat maka pada suatu ketika emosi itu menjadi sulit untuk diredam. Akibatnya kita akan mempermalukan diri sendiri, atau yang lebih fatal lagi, melakukan tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain yang pada suatu ketika akan kita sesali.
Dalam hal meredam emosi, pesan Paulus ini sesungguhnya baik untuk diterapkan. Ketika orang parkir sembarangan menutup mobil kita, itu bisa menjadi saat yang tepat untuk berlatih berpikir positif. Mungkin ia sedang terdesak waktu, ada hal mendesak yang harus segera ia lakukan dan tidak bisa lagi menunggu. Atau kalaupun orang itu memang seenaknya saja, seharusnya kita merasa prihatin karena ia ternyata tidak mengerti tata krama dan bakal mengalami banyak kesulitan karenanya. Itu bentuk-bentuk pemikiran yang bisa mencegah kita dari kemarahan yang tersulut dengan cepat. Dan itulah yang baik untuk dilakukan, karena biar bagaimanapun, apapun alasannya, kemarahan tidaklah mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
Berpikir hal-hal yang positif, itu bisa membuat kita tidak mudah terpancing emosi. Dan hal itu pun sudah diingatkan oleh Paulus. "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Filipi 4:8).
ALLAH YANG MUTLAK
Aku, Tuhan, tidak berubah
(Maleakhi 3:6)
Sumber : https://c.pxhere.com/photos/09/21/japan_railway
Saya
meragukan ketepatan timbangan badan yang terletak di kamar mandi kami.
Karena itu saya telah belajar untuk memanipulasinya dengan cara saya
sendiri. Saya dapat mengubah-ubah tombol kecil di samping timbangan, dan
jika hal itu terlalu sulit, saya cukup memiringkan badan ke arah
tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh angka yang bagus semoga saja
berkurang beberapa kilogram.
Kita
hidup pada zaman di mana banyak orang merasa yakin bahwa tidak ada hal
yang mutlak. Sikap melayani diri sendiri merajalela dan menginjak-injak
hukum moral yang diberikan bagi perlindungan masyarakat. Budaya kita
membanggakan "kebebasan" yang sesungguhnya merupakan perbudakan dari
dosa (Roma 6:16,17).
Namun
ada Allah yang mutlak dan timbangan-Nya selalu tepat. Bersama Dia, satu
kilo adalah satu kilo, benar adalah benar, dan salah adalah salah. Dia
berkata, "Aku, Tuhan, tidak berubah" (Maleakhi 3:6).
Bagi
kita sebagai orang percaya, hal ini seperti besi baja yang menjadi
tulang punggung rohani kita. Kita mendapatkan rasa percaya diri saat
menghadapi kesulitan dan memperoleh keyakinan akan penggenapan setiap
janji ilahi.
Apabila
Allah dapat dengan mudah berubah pikiran, maka kehidupan kekal kita
akan terus-menerus berada di dalam situasi yang membahayakan. Akan
tetapi, karena Dia merupakan Pribadi Yang Tidak Berubah, maka kita
"tidak akan lenyap" (ayat 6). "Tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu
baru tiap pagi" (Ratapan 3:22,23)
BUMI BERUBAH, NAMUN ALLAH DAN FIRMAN-NYA TETAP!!
Sumber : persekutuandoatelkomseljpr.blogspot.com
MINGGU KE-2
"Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku."
Mazmur 62:2
Sumber: https://oediku.files.wordpress.com/2013/11/ketenangan-2.jpg
Setiap orang tentunya ingin hidup tenang. Apalah artinya kita
memiliki segala sesuatu, tetapi hidup tidak tenang; selalu gelisah, dan
selalu di kejar ketakutan? Sayangnya, orang seringkali salah mencari
sumber ketenangan. Beberapa orang berpikir ketenangan akan ada ketika
memiliki uang yang cukup atau pekerjaan yang baik. Kisah tentang Daud
mengajarkan kita tentang ketenangan yang sesungguhnya.
Dalam perjalanan hidupnya, mulai dari saat masih menjadi seorang
penggembala domba hingga menjadi raja atas Israel, kehidupan Daud
diwarnai dengan hal-hal yang menakutkan, sehingga ia merasa tidak aman.
Saat menggembalakan kawanan domba ayahnya ia harus berhadapan dengan
binatang buas yang berusaha menghabisi ternaknya. Dia juga pernah
berhadapan dengan Goliat yang sangat ditakuti oleh kebanyakan orang saat
itu. Daud juga pernah dikejar-kejar oleh Saul yang hendak membunuhnya.
Hidup Daud seperti berada di ujung tanduk. Secara manusia ia kerapkali
merasa takut dan kuatir, namun ia tetap tenang. Mengapa? Sebab Daud
mengimani bahwa ketenangan tidak bersumber dari apa yang ada di luar
diri manusia seperti kekayaan, orang tua, perlindungan dari penguasa,
dll. Ketenangan sejati hanya dihasilkan dari hati yang mempercayai Allah
sebagai sumber keselamatan. Tuhanlah tempat perlindungan kita.
Apakah saudara sedang tidak tenang? masalah terus menerpa saudara
sehingga saudara mengalami kekuatiran? Ingatlah bahwa Tuhan merupakan
sumber penghiburan, Dia sumber keselamatan, Dia sumber perlindungan yang
dapat memberikan ketenangan sejati. Datanglah dan carilah Dia.
Percaya
kepada Tuhan berarti menyerahkan semua beban kita kepada Tuhan dan kita
pun tidak meninggalkan Tuhan dalam keadaan apa pun dan bagaimana pun,
sehingga pastilah rasa tenang akan tinggal tetap di dalam hati kita!
MINGGU KE-3
INDAHNYA TEGURAN
https://pendoasion.files.wordpress.com
Jika kita mendengar orang lain menceritakan keburukan kita, tentu hati
kita tidak senang. Ini wajar. Tidak ada seorang pun yang suka jika
kesalahan atau perbuatan dosanya dibongkar. Dengan alasan yang sama,
penolakan Amazia, imam di Betel, atas pemberitaan Amos itu bisa kita
maklumi. Inti pemberitaan Amos niscaya membuat bangsa Israel resah.
Respons negatif Amazia bisa kita katakan normal karena pemberitaan
seperti yang dilakukan Amos ini tak jarang membuahkan pembalasan berupa
kekerasan dalam konteks lain.
Amos sendiri hanya menaati perintah Allah yang menyuruhnya pergi ke
Israel. Ia tidak sedang mencari makan melalui nubuat-nubuatnya; ia bukan
nabi profesional, yaitu mereka yang bernubuat di istana raja dan
mendapat dukungan keuangan dari kerajaan. Amazia tidak mau mengerti
bahwa pemberitaan hukuman ini merupakan akibat langsung dari dosa-dosa
Israel terhadap Allah, yaitu menginjak-injak keadilan dan kebenaran
Allah. Sebagai imam, Amazia tak lagi mewakili umat di hadapan Allah,
tetapi sekadar menjadi pemasok kebutuhan religiusitas orang Israel,
religiositas yang palsu dan jelas-jelas ditolak oleh Allah.Teguran atau kritik tidak selalu buruk. Bahkan, teguran dapat menjadi
sarana Tuhan untuk membentuk kita.
Kritik bisa mencegah kita terjerumus
ke dalam kesalahan yang memalukan di kemudian hari (ayat 14,17). Menurut
penulis Amsal, orang yang terhormat adalah mereka yang tidak pantang
terhadap kritik. Mengabaikan kritik sama saja dengan mengabaikan didikan
(ayat 18). Bahkan, kritik yang keras bisa jadi adalah bentuk kasih
terbaik dari seseorang kepada kita (ayat 24).
Apakah pada waktu-waktu ini Anda sedang mendapat teguran atau kritikan? Bagaimana Anda menanggapinya? Kerap reaksi kita adalah menolak, menjadi tersinggung atau marah, karena yang namanya kritik pasti tidak enak didengar.
Apakah pada waktu-waktu ini Anda sedang mendapat teguran atau kritikan? Bagaimana Anda menanggapinya? Kerap reaksi kita adalah menolak, menjadi tersinggung atau marah, karena yang namanya kritik pasti tidak enak didengar.
Mari mengingat keindahan dan keuntungan dari teguran yang
baik. Jangan terlalu cepat menutup diri dari teguran. Terimalah dengan
rendah hati. Cernalah dengan bijaksana. Bersyukurlah bahwa Tuhan
membentuk kita melalui teguran kasih sesama.
MINGGU KE-4
MEREDAM AMARAH
![]() |
| Sumber : https://tse3.mm.bing.net/th?id |
Ayat bacaan:
1 Tesalonika 5:14
"sabarlah terhadap semua orang."
1 Tesalonika 5:14
"sabarlah terhadap semua orang."
Tuhan sepertinya tahu sulitnya manusia untuk mengontrol kesabarannya. Mengapa saya bisa mengatakan hal ini? Karena baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru kita bisa menemukan pesan Tuhan berulang-ulang agar kita bisa melatih kesabaran kita. Lihatlah sebuah seruan Yakobus berikut ini: "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah." (Yakobus 1:19). Cepatlah mendengar, bukan cepat membantah, dan lambatlah berkata-kata apalagi marah. Mengapa? Yakobus melanjutkan: "sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:19-20). Jangan gampang tersulut emosi, jangan cepat beradu argumen, tetapi dengarkanlah dahulu apa kata orang, atau cobalah berpikir hal-hal yang positif sebelum kita buru-buru berkomentar.
Misalnya : "Ini orang parkir seenak jidatnya saja!" teriak seorang pengemudi yang tidak bisa keluar dari parkiran karena mobilnya terhalang sebuah mobil lain yang parkir seenaknya. Tukang parkir menjadi sasaran empuk karena seharusnya ia melarang mobil itu untuk parkir menutupi mobil lain. Tukang parkir itu pun kemudian kalang kabut mencari pemilik mobil tapi gagal menemukannya. Saya parkir kebetulan tidak jauh dari situ sehingga melihat kejadiannya secara jelas. Sementara si pemilik mobil yang terhalang masih marah-marah sambil membentak tukang parkir, belum juga ada tanda-tanda pengemudi mobil dibelakangnya kembali ke mobilnya. Pernahkah anda melihat hal ini? Rasanya kita sering melihat kejadian seperti ini, atau bahkan mengalaminya sendiri.
Tidak hanya soal parkir sembarangan, kitapun kerap kesal melihat orang yang mempergunakan fasilitas umum sesuka hatinya tanpa mempedulikan orang yang mengantri dibelakang mereka. Di saat kita tidak sedang buru-buru saja rasanya sudah kesal, apalagi kalau kita sedang terjepit waktu. Bagaimana dengan orang yang berkendara di jalanan secara ugal-ugalan? Atau orang yang memencet klakson berlebihan di saat macet? Polisi yang menutup jalan seenaknya sehingga kita harus memutar jauh? Ada begitu banyak hal dalam hidup kita yang bisa memancing emosi dengan cepat. Alasan untuk emosi mungkin memang ada, tapi jika kita tidak mengontrolnya cepat maka pada suatu ketika emosi itu menjadi sulit untuk diredam. Akibatnya kita akan mempermalukan diri sendiri, atau yang lebih fatal lagi, melakukan tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain yang pada suatu ketika akan kita sesali.
Dalam hal meredam emosi, pesan Paulus ini sesungguhnya baik untuk diterapkan. Ketika orang parkir sembarangan menutup mobil kita, itu bisa menjadi saat yang tepat untuk berlatih berpikir positif. Mungkin ia sedang terdesak waktu, ada hal mendesak yang harus segera ia lakukan dan tidak bisa lagi menunggu. Atau kalaupun orang itu memang seenaknya saja, seharusnya kita merasa prihatin karena ia ternyata tidak mengerti tata krama dan bakal mengalami banyak kesulitan karenanya. Itu bentuk-bentuk pemikiran yang bisa mencegah kita dari kemarahan yang tersulut dengan cepat. Dan itulah yang baik untuk dilakukan, karena biar bagaimanapun, apapun alasannya, kemarahan tidaklah mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
Berpikir hal-hal yang positif, itu bisa membuat kita tidak mudah terpancing emosi. Dan hal itu pun sudah diingatkan oleh Paulus. "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Filipi 4:8).
Sumber : http://www.renunganharianonline.com




Komentar
Posting Komentar